Fpto. Menjaga Kearifan Lokal dan Harmonisasi, Perhutani Mojokerto Ikuti Sedekah Bumi di Gunung Pucangan
Monokerto.Indexberita.com Guna menjaga tradisi leluhur dan perwujudan rasa syukur atas limpahan rezeki serta menjaga harmonisasi manusia dengan lingkungannya, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto bersama Forpimcam Ngusikan serta masyarakat Desa Cupak di Gunung Pucangan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang menggelar acara sedekah bumi di lokasi wisata religi Gunung Pucangan, Petak 11C, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Katemas, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tapen, Rabu (26/06).
Administratur KPH Mojokerto, Rusydi melalui Bani Martani, Asper BKPH Tapen, menyampaikan, bahwa kehadiran Perhutani, sebagai upaya dalam membangun komunikasi dalam membina harmonisasi dengan masyarakat desa hutan (MDH), dengan demikian diharapkan berdampak positif pada setiap kegiatan Perhutani di lapangan, ujarnya.
“Kegiatan ini dilaksanakan juga sebagai tradisi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah rahmat dan rezeki serta hasil panen tahun ini,” imbuh Bani Martani.
Kegiatan sedekah bumi ini sudah dilestarikan dan diadakan setiap tahun di Wisata Religi Gunung Pucangan yang juga merupakan ikon budaya kearifan lokal yang bisa dinikmati pengunjung setiap tahunnya.
Kepala Desa Cupak, Winarsono mengatakan bahwa Pemerintah Desa Cupak juga berkomitmen terus melestarikan budaya leluhur lewat situs Gunung Pucangan sekaligus melestarikan hutan yang ada disekitar desa dan Gunung Pucangan.
”Situs Gunung Pucangan sudah menjadi ikon Desa Pucangan. Masyarakat desa kami hingga sekarang masih menjujung tinggi adat istiadat yang telah ada secara turun-termurun,” ujar Kepala Desa Cupak Winarsono.
Warsono menambahkan, secara geografis, Desa Cupak terletak di wilayah Jombang utara berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan. Sebagian besar wilayah desa merupakan kawasan hutan dan pegununganmasuk wilayah Perhutani KPH Mojokerto.
Meski begitu, nama Desa Cupak banyak dikenal masyarakat secara luas karena ada situs Gunung Pucangan yang merupakan peninggalan Raja Airlangga. ”Pada malam tertentu para pengunjung juga mendatangi makam Dewi Kilisuci, anak perempuan semata wayang Raja Airlangga. Paling ramai pada malam Kamis Kliwon dan Jumat Legi,” imbuhnya.(*)